Pengalaman Menginap di Hotel Capsule @ Little Red Dot Singapore



Kalau trip ke Singapore, selain kamu bisa menginap di Changi untuk dari sisi penghematan, pastinya keesokan harinya kamu butuh penginapan. Waktu saya Trip ke Singapura kemarin untuk 3 hari 2 malam bersama Lia, jujur aja saya dan Lia memang tidak berinisiatif untuk menginap di Bandara Changi, kenapa? Pertama kami sama-sama baru pertama kali menginjakkan kaki di Singapore. Kami takut dideportasi saat tidur nyenyak di bandara. Trus yang kedua, tidur pastinya gak nyaman. Kondisi bandara cukup dingin, kami gak mau mati kedinginan disana, walaupun udah bawa perlengkapan tidur sih, tapi tetap saja tidur di lounge itu gak senyenyak tidur di tempat tidur bukan? So, akhirnya kami memutuskan untuk langsung mencari penginapan di Singapore. Dan penginapan yang kami pilih adalah Capsule The Little Red Dot SIngapore. 


Sebelum saya lanjutkan kamu kudu baca reviewnya Lia dulu diatas, once ini bukan untuk keperluan komersil ya, tapi supaya nyambung apa yang saya ceritakan ini. 

Kenapa di Capsule @ Little Red Dot?

Untuk mencari penginapan di Singapore gak semudah yang saya dan Lia bayangkan. Untuk mendapatkan satu buah penginapan, saya butuh searching, googling, cari tahu sana sini selama kurang lebih 3 harian deh. Eh lupa tepatnya berapa hari. Kayaknya sampai seminggu ding. Haha gak konsisten. Yang pasti agak susah! So, setelah cari sana sini akhirnya pilihan kami jatuh kepada si Little Red Dot ini. Saya memilih hostel ini dengan bantuan Traveloka. Karena cuma di Traveloka yang harganya reasonable. 

Untuk mendapat hotel ini pertama saya filternya adalah price, karena saya dan Lia budget terbatas, kami mencari yang per harinya 200ribuan. Lalu kedua adalah location, saya pelajari dulu peta MRT Singapore. Saya mencari tiap-tiap pemberhentian MRT Stationnya dari Changi itu. Tadinya saya mau pilih penginapan di dekat Changi, tapi alamak, harganya saya gak kuat. Melebihi budget kami. Sebenarnya sih sah-sah aja, mau pilih hotel yang harganya 400ribuan per malamnya. Tapi tetaplah, kami merasa rugi hahaa. Ketiga adalah testimoni. Bagaimanapun juga testimoni bagi kami cukup penting. Lihat keberadaan hostelnya di Tripadvisor, agoda, traveloka, and all reviewers. Jadi intinya cukup ketatlah pemilihan hostel kami kali ini seketat celana basic

Female Room Only. Ini menjadi salah satu alasan kami yang pertama. Awalnya kami gak tau gimana caranya memilih penginapan di Singapore. Saya pikir ah semua hotel kan sama. Ternyata setelah saya baca di semua buku travelling, di Singapore itu tipenya kebanyakan hostel. Dan memang didesain untuk para traveller. As you know Singapore memang negara persinggahan alias negara transit. Jadi biasanya orang yang ke Singapore hanya mampir sehari-dua hari. Jadi tipe model penginapan disana ya model dormitori atau bed bertingkat gitu. Sebutannya hostel lah. Kalau kamu mau nyaman, buat para cewe-cewe, cari yang Female Room Only, jangan yang Mix Room. 

Dekat MRT Station. Karena judulnya backpacker light, saya ingin memilih penginapan yang tidak jauh dari stasiun MRT. Kalau dari maps sih, lokasi si hostel ini tidak jauh dari 2 station, yaitu Lavender dan Bendemeer. Sebelum saya berangkat, saya sudah menyiapkan alternatif transportasi menuju hostel ini (via MRT dan bus). Awalnya saya mau naik bus, tapi dari pihak hostel menyarankan untuk naik MRT dan turun di Bendemeer saja. Jalan kaki sekitar 4 menit, which is sekitar 300 m lah. Gak terlalu jauhlah pikir saya. Kalau dari Lavender Station jalan kaki sekitar 1 km.



Kalau lihat di maps sih, letak Lavender Station itu jauh ya dari bandara Changi. Naik MRT sekitar 30-40 menitanlah. Tapi karena MRT di Changi itu always on time, jadi mau 40 menit juga gak berasa. Tiba-tiba udah sampai aja :)




Ada Kitchen atau Pantry




Ada microwave juga disini, bisa untuk menghangatkan makanan



Dapat Breakfast

Harganya 200ribu plus udah dapat breakfast? Wah itu sih udah terhitung murah menurut saya. Kenapa? Karena mencari sarapan di Singapore itu gak semudah di Indonesia. Susah! Gak kayak di Indonesia yang banyak jualan. Keluar rumah udah ada yang jualan nasi uduk, LOL. Jalan beberapa meter aja udah ketemu gorengan. Sevelpun jalannya jauh banget. Jadi mendapat hostel sudah plus makan pagi, I think it's a good idea! Tapi plis jangan membayangkan sarapan all you can eat gitu yah. Masa iya hostel per malam 200rebu dapat makanan enak? Gaklaah. Ini breakfast juga cuma sekedar 'ganjal perut' aja. Breakfastnya adalah roti + teh / kopi saja.

Selai rotinya (cuma tersedia burberry saja)




Saat breakfast pastinya disini kamu akan bertemu dengan tamu lainnya. Kebetulan saat kami turun untuk breakfast (jam 8 pagi), kami adalah orang yang pertama. Kemudian 1 jam berikutnya, baru deh tamu lainnya turun untuk breakfast.

Ada kejadian lucu di kitchen ini, kami dapat kuliah gratis disini. HAH GRATIS? 😅
Jadi gini waktu kami breakfast, kami bertemu salah seorang female traveller asal Indonesia. Jadi awal perkenalan dia menanyakan apakah kami traveller dari Indonesia? Ternyata kami dan dia sama dari Indonesia. Nampaknya dia tahu karena saat saya ngobrol dengan Lia pakai bahasa Indonesia.

Tepatnya domisilinya dia di Surabaya, tapi ia saat ini tinggalnya di Batam. Lalu ia ke Singapore untuk sekolah lagi, dan rencananya ia ingin mengambil jurusan computer atau IT. Saat kami tanya kenapa? Alasannya karena pendidikan dan habit di Singapore itu sangat bagus dan orang-orangnya juga semua sangat rush, alias semua pekerja keras. Jadi ia berpikir ingin melanjutkan sekolahnya lagi disini.

Dia itu sudah sekitar 30 hari di hostel itu (udah kayak penghuni tetap aja) 😋 Dia menyadari bahwa hidup di Singapore itu butuh biaya yang sangat besar. Dia pernah coba tinggal di apartemen di Singapore, cuma katanya bayarnya mahal banget, untuk itulah dia berpetualang dari Batam ke Singapore untuk mencari info tentang pendidikan disini. Dan dia sangat mencintai Negara Singapore.

Tapi anehnya, dia mencari info soal pendidikan di Singapore, tanpa dia browsing terlebih dahulu lho. Dia bilang mau cari langsung aja. Kan kocak? Udah tau biaya hidup mahal, mending uangnya dia tabung buat biaya pendidikannya, trus dia bisa kembali ke Batam. Saat saya tanya kenapa gak stay di Batam aja? Biaya hidupnya mahal! Lha podo wae sami mawon toh jeng? 😀 Intinya mah, dia memang mau tinggal di Singapore aja 😋

Akhirnya berujung dia curhat dan menasehati kami untuk stay dan mencari nafkah di Singapore aja 😁😁😁

Shared Bathroom

Waktu awal saya pesan hotel ini, saya memang tahu bahwa kamar mandinya adalah shared bathroom. Tapi karena saya pikir itu female room only, yaudah kamar mandinya 1 ruangan ya khusus untuk cewe aja. Tapi ternyata saya salah, satu gedung itu dormnya bisa untuk cowo dan cewe. Jadi ada yang mix, ada yang female room only. Tapi untuk kamar mandinya ternyata tetap shared dengan yang lain. Untunglah saya gak keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk aja 😁

Tapi di hostel ini sudah siap sedia segala macam pengering rambut, dari hair dryer sampai catokan rambut. Jadi buat yang tidak membawa disini semua disediakan.

First Impression

Saya dan Lia sampai di hostel ini sudah malam, kira-kira jam 8an lah. Jam 8 malam di Lavender Street sudah sepi bukan main! Seperti suasana di Solo atau di Cirebon. Mungkin beda cerita kali ya kalau di daerah tengah kota seperti China Town atau Geylang atau lainnya.

Lavender Street saat pagi hari

Lavender Street pagi hari

Saya tuh udah happy-happy pas turun di Bendemeer menuju hostelnya. Sepanjang perjalanan, ini percakapan saya dan Lia waktu itu :

Lia : "Mba Oline, udah liat kan hostelnya kek gimana?"
Oline : "Udahlaaah. tapi cuma lihat bednya aja. Lainnya belum."
Lia : "Ohgitu. Jadi belum lihat penampakan dari luarnya kek gimana?"
Oline : "Belum, emang kenapa?"
Lia : "Hehehe.. gapapa mba. Pokoknya jangan ekspektasi terlampau jauh yaaa. Tar liat sendiri hostelnya. Pokoknya hostel bangetlaah. Yagitu deh 😅
Oline : "Okeeee....."

Saya pikir ya namanya hostel, bayangan saya udah kayak hostel di Jogja gitu deh. Yang hommy, yang adem, trus masuk ke kamar yang bednya ada 3 tingkat. Ya gitu deh bayangan saya.

Setelah sampai di sebrang hostelnya. ..

Lia : "naaah, itu mba, hostelnya" (Lia sambil menunjuk hostelnya)
Oline : Hah.. apaa?? Serius itu hostelnya??? Ebuseeet. Kok kayak tempat mesum gitu sih? Kok di rolling door gitu sih? Kok kayak gak ada kehidupan sih? Ya ampun sepi amat????"



Segudang pertanyaan yang saya ajukan ke Lia. Lia gak jawab sama sekali. Dia ngakak sengakaknyaa. Ya ampun ini beneran diluar ekspektasi saya :( Lia bilang, dia udah pernah lihat hostelnya di google earth (google view 360 derajat), jadi persisnya udah tau kayak gimana. Kalau saya cuma lihat di Traveloka aja. Ya maklumlah, saya gak punya waktu buat kepoin kayak gimana penginapannya. Saya pikir itu gak terlalu krutial lah. Lagipula hostel 200ribu mau mengharapkan lebih seperti apa?



Saat sampai, semua dikunci rapat, tapi ada tulisan disuruh pencet bel? Lalu kami pencet bel, setelah buka pintu kami menemukan tangga, lalu kami naik keatas, terus sampai ke lantai 2 (Uffggghhh, capek banget bawa barang 7 kilo naik-naik tangga, hiks). Sampai diatas akhirnya kami ketemu dengan meja reseptionisnya. Macem mba-mba orang Philipine gitu deh perawakannya, usia sekitar 25 tahunan, pakai baju yang unformal, kayak baju buat santai di rumah gitu deh.

Untuk keperluan check in kita diminta memperlihatkan paspor untuk verifikasi. Nanti setelah check in, kita diberikan gelang elektronik sebagai akses keluar masuk hostel ini.

Setelah selesai, kita langsung diantar ke kamar kita. Yang lokasinya beda gedung dari meja si resepsionis itu. Jadi keluar gedung dulu, menyusuri jalan beberapa meter ke belakang, baru deh masuk disitu. Itu juga kita kudu naik ke lantai 3 (Men, udah capek seharian di Changi, ini masih harus turun naik tangga ke lantai 3 ohemjii), tapi ya mau gimana lagi? Sepertinya kamar yang kosong hanya di lantai 3 itu.

Tips saat kamu bertanya ke pihak hotel, coba tanyakan posisi kamarnya ada di lantai berapa. Karena kalau kamu bawa koper ukuran middle (20 inchi) itu dengan isi penuh, lumayan juga bow kalau dibawa naik turun tangga kan?

Internetnya gimana?

Disini sih ada 3 wifi. Untuk internetnya speednya 5G. Tapi entah kenapa saya coba masukkan passwordnya selalu salah terus, jadi saya gak memakai wifinya disini. Karena saya membawa modem sendiri.

Kami menginap di hostel ini untuk 2 malam, so far sih oke ya untuk hotel budget traveller. Sepertinya kami tidak salah untuk memilih hotel ini. Dan sayapun langsung memberikan review dan penilaian positif untuk hostel ini. Jadi buat kamu yang ingin mencoba mencari penginapan yang sesuai budget, mungkin bisa memilih hostel ini. Memang agak jauh dari Changi Airport, tapi setidaknya kamu bisa menghemat beberapa ratus ribu, sisanya bisa dipakai untuk makan. Karena makan di Singapore butuh perjuangan (baca : mahal) 😁

Kamarnya Gimana?

Terus saat kami masuk ke kamar, disitu terdapat 8 buah bed (capsule) yang sepertinya sudah penuh. Saat kami booked, kami diberikan 1 bed bertingkat (saya dibawah, dan Lia diatas).

Ada kejadian kocak disini. Kami kan sampai di hostel ini sudah malam sekitar jam 8an. Kami pikir semua bed-nya sudah terisi dan sudah ada penghuninya semua, karena saya juga melihat di sekitar bed mereka sudah ada barang-barang. Kamipun ngobrol bisik-bisik. Karena seperti yang saya baca reviewnya, bahwa kita itu dilarang untuk ngobrol kencang-kencang di dalam kamar. Kalau mau ngobrol bisa diluar atau di kitchen, karena bisa mengganggu tamu lainnya.

Tapi setelah kami ngobrol sekitar 1 jam, kok gak ada tanda-tanda kehidupan ya di kamar ini selain kita berdua? Ternyata belum pada pulang yang lain 😁



Untuk colokan chargernya di kamar cukup banyak. Saat itu saya bawa charger sekitar 2 buah plus kabel data. Jumlah colokannya 3. Berada di samping bed.



Terus uniknya, di dalam lemarimya ini ada kaca untuk make up. Diatas lemari ada kaca yang bisa digunakan untuk make up. Tapi bagi saya sih kurang puas kalau make up disini, karena lampunya kurang terang dan kacanya terlalu jauh.

Untuk female single pod ini bener-bener single, alias memang hanya didesain untuk 1 orang saja. Jadi kalau untuk 2 orang memang tidak bisa. Tapi ya walaupun hotel budget seperti ini cukup oke kok kenyamanan bednya. Maksudnya ya lumayan empuk juga, sayapun tidur cukup nyaman.

Makasih ya yang sudah membaca review saya. Semoga bermanfaat 😍


13 comments

  1. Kayaknya comfy tempat tidur di hostel ini. Tampilan luar boleh ngga meyakinkan tetapi di dalamnya terlihat clean, neat, modern minimalis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan comfy. Aku tidur sangat nyenyak disini. Iya bener. Dont judge book by over yaa

      Delete
  2. Waktu ke sana aku nginapnya di China Town, jadi rame sepanjang hari. Kalau di tempat sepi pun nggak takut lah ya, soalnya Singapore aman banget, jarang ada kejahatan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoo iyaaa China Town memang rame katanya. Disana nginep dimana aja gak masalah mau sepi juga. Krn sudah dijamin aman yaa 😁

      Delete
  3. Recommended banget buat menekan bujet. Pengen nyobain kalau ke sana nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneeer. Recomended lah hostel ini. Kapan2 coba nginep disini aja mba 😊

      Delete
  4. Terlepas dari banyak "surprise" ini hostel yang lumayan oke ya, Mbak dengan harga segitu. Hahahaha :D

    ReplyDelete
  5. Aku kalau hostel entah kenapa sering banget dapat di kasur bagian atas. PR banget naiknya :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rempong banget Marga. Biar badan kita kelihatan kecil tetep enakan di bawah yaaa hahahaha.

      Delete
  6. Kalau sudah kelas hostel budget murah, jangan pernah melihat dari luarnya saja Kak. Biasanya memang gitu, tampilan luarnya tampak lusuh dan mesum tapi begitu masuk ke kamarnya ternyata tidak jelek2 amatlah. Standar 200 ribu per malam masuk hitunganlah. :-D

    ReplyDelete
  7. Mungkin kalo Kristan bagus diluar pajaknya tinggi kali... Ha ha

    ReplyDelete
  8. Marked.
    Thank You reviewnya Mba Oline, siapa tahu ada rezeki ke Spore bisa nginep disini. Seru yaaa

    ReplyDelete
  9. Tampilan luarnya beda banget sama tampilan dalam yaa. Harganya juga terjangkau lah, udah plus dapat breakfast lagi :)).

    ReplyDelete