Inilah Inovasi Yang Dilakukan Tetra Pak Untuk Tetap Selalu Dekat Dengan Para Konsumennya



Siapa yang sehari-harinya suka belanja online? Ayok ngacung! ^^ Hmm atau pertanyaannya saya ganti, siapa yang setiap minggu atau bahkan per bulannya ada yang suka belanja online? Paling tidak kalau kamu gak beli, kamu browsing-browsing dan windows shopping on your smartphone? Ahh saya yakin semuanya pasti pernah atau sering belanja online ya. 

Jadi kali ini saya mau bahas soal belanja online nih. Terutama yang sering belanja ke minimarket atau ke supermarket. Pasti kamu pernah dong beli minuman atau belanja kebutuhan rumah tangga ke minimarket? Pasti kamu pernah menemukan packaging produk tersebut dari karton kan? Nah, kamu tahu gak produsen dari barang-barang yang kamu konsumsi itu, khususnya yang terbuat dari karton? Itu hasil produksi dari Tetra Pak. Udah pernah dengar belum? Kalau saya sih sudah pernah tahu, karena setiap saya beli, saat saya ingin menemukan tanggal kadaluarsanya, saya suka baca tuh di bagian kode produksi, ada tulisan produced by Tetra Pak. Nah, sekarang makanan dan minuman tersebut bisa kamu belanja melalui online dan nantinya akan repackaging lho, dengan tampilan yang lebih unique :)

Lalu hubungan repackaging dengan belanja online apa? Yuks nanti saya jelaskan di bawah ya :)

Hari itu tanggal 20 September 2017 saya menghadiri sebuah acara gathering bersama Tetra Pak Index 2017. Lokasi gathering kali ini adalah di Hotel Fairmont Jakarta. Temanya adalah The Connected Consumer. Narasumber yang hadir adalah Gabrielle Angriani (lebih akrab dipanggil dengan sapaan Gaby) as a Communucations Manager Tetra Pak Indonesia. 



Sebagai pemilik brand, seiring pertumbuhan masyarakat setiap harinya menjadi hal yang kompleks. Indonesia itu adalah dari 132 juta pengguna internet, 40% nya adalah pengguna aktif sosial media. Ini artinya mengharuskan brand untuk berpikir lebih kreatif supaya key message yang disampaikan oleh penjualan tersebut bisa tersampaikan dengan baik ke konsumen. Apalagi sekarang ecommerce sudah berkembang sangat pesat. 

Tentunya melalui mouth to mouth atau televisi sudah tidak diminati lagi. Saat ini kehidupan konsumen sudah mulai berubah. Dunia bisnispun berubah. Apa-apa maunya online, baik dari belanja kebutuhan rumah tangga, beli makanan, transportasi, beli pulsa dan sebagainya. Ini artinya mau gak mau para brand harus mengikuti arus dan perkembangan jaman. Kalau tidak, bisa-bisa konsumen sudah berpaling pada yang lain? Karena pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millenial dan generasi Z, yaitu generasi yang lahir di era digital, dimana smartphone dan belanja online sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. So, penting bagi brand untuk memikirkan strategi yang tepat untuk mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Brand yang ingin terlibat dengan konsumen yang serba terhubung ini perlu memahami hal apa yang mendorong mereka, dan bagaimana menciptakan pengalaman menarik bagi brand, yang bisa dirasakan baik secara online maupun offline. 

Tetra Pak sudah ada sejak 10 tahun lalu. Selama 10 tahun inilah Tetra Pak mengadakan survey tentang dunia digital dan konsumen online. Dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia mencapai 51% atau sekitar 45 juta users, yang dimana 34% nya pengguna aktif sosial media. Konsumen yang mengakses sosial media melalui mobile juga meningkat sebesar 39%. Tingkat pertumbuhan yang cepat ini mendorong pemilik brand di Indonesia untuk mengambil langkah perubahan dan mengembangkan strategi untuk menjangkau konsumen yang saling terhubung secara digital.

Sosial media memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan bisnis, khususnya bisnis berbasis online di Indonesia. Konten buatan user menjadi semakin penting para era digital sekarang, yang menyumbang 65% waktu penggunaan media untuk rata-rata konsumen secara global.

The Connected Consumer, itu apa sih? Adalah orang-orang yang selalu terkoneksi dengan brand makanan atau minuman, involve dengan merek, dan mereka ingin mendapat rewards dari brand tersebut. Connected Consumer mengacu pada 3 hal, yaitu website brand, sosial media brand dan review dari konsumen.

Biasanya orang yang suka terkoneksi di dunia maya saat melakukan transaksi online sangat memperhatikan review dan testimoni orang lain. Dulu Tetra Pak penjualannya melalui offline, tapi sekarang Tetra Pak ingin mencoba melalui dunia digital. Nah, biasanya yang suka memberikan testimoni atau review itulah yang disebut dengan super leader. Super leader inilah yang suka membeli barang sendiri, kemudian mereka menuliskan testimoninya sendiri melalui sosial medianya mereka. Baik opini secara positif atau negatif. Diantara jumlah pengguna sosmed hanya 7% nya saja yang menjadi super leader.

Si super leader itu tidak segan-segan untuk menuliskan testimoni negatif di sosial medianya. Karena itu sifatnya independent, tidak dibayar. Beda lagi dengan para artis atau endorser yang penilaiannya berdasarkan rikues dari para brand.

Menurut data survey, tahun 2021 nanti kehidupan kita dan transaksi kebanyakan adalah semuanya online. Dan kalau belanja online, biasanya orang sekarang lihat packagingnya. Packagingnya bagus, langsung difoto dan langsung diposting di sosial medianya. Akibatnya, menjadi viral. Nah untuk itulah Tetra Pak sekarang sudah berinovasi, packagingnya sudah terkoneksi dengan AR (Augmented Reality), yaitu menggabungkan antara ritual dan reality.

Soal packaging. Customer itu lebih suka kalau setiap packaging barang pesanannya personalized atau custom. Jadi merasa dihargai dan berbeda dari yang lain. Dan packaging dari Tetra Pak adalah semua terbuat dari karton supaya ramah lingkungan.

Kalau kamu mau tau produksi kemasan dari Tetra Pak, bisa mengunjungi www.tetrapak.com.

Lalu narasumber kedua ada mas Tuhu Nugraha selaku Pakar Digital Marketing. Mas Tuhu menjelaskan tentang perkembangan dunia digital saat ini.


Di slide di bawah ini membuktikan bahwa pengguna media sosial begitu besar, dan hampir seluruh penduduk Indonesia sudah pernah menggunakan sosial media.

The most favourite content is 1. social media, 2. News. 3. Etc.


Ini membuktikan bahwa terjadi perubahan perilaku dari yang tadinya offline menjadi online shopping.



Sebenarnya apa saja yang suka dibelanjakan oleh para konsumen? Kalau dulu untuk peringkat pertama masih didominasi dengan fashion. Tapi kalau saat ini tiket menjadi prioritas utama. Dengan maraknya ecommerce dan penyedia ticketing lainnya, orang jika ingin travelling jadi semakin mudah.


Keadaan seperti ini menjadi potensi yang sangat baik untuk para brand yang bermain di dunia digital. Karena angka pengguna internet dan sosial media sepertinya akan terus bertambah. Nah, disinilah kita harus bisa kreatif untuk bisa menarik konsumen membeli produk kita.



Nara sumber berikutnya adalah Cynthia Tenggara, Owner dari Berrykitchen. Sebelumnya dari kamu udah ada yang pernah dengar berrykitchen kan? Itu lho, aplikasi atau website penyedia makanan (siap saji ataupun masak).

Mba Cynthia ini dulunya bekerja di online company dan selama ia bekerja di perusahaan tersebut ia melihat potensi dunia marketing online itu luar biasa ya growthnya! Lalu saat dia resign, ia mengambil keputusan untuk berbisnis online saja. Dan bisnis yang ia jalani sampai saat ini bernama Berrykitchen. Saya juga pernah pesen Berrykitchen lho :)


Tentang Berrykitchen

Berrykitchen berdiri sejak tahun 2012. Tapi saat itu gak langsung berjalan dan berjualan, mereka melakukan survey pasar dulu selama 2 tahun, yaitu dari tahun 2012-2014. Nah disaat itulah mereka meyakinkan customer bahwa produk mereka ada dengan cara membagi-bagikan sample. Tapi sample yang customer dapatkan juga tidak mudah. Caranya melalui kuis yang Berrykitchen adakan. Jadi user memposting dulu di social media. Baru mereka pilih mana saja yang bisa terima sample. Tapi mba Cynthia gak bilang sih posting fotonya apa, apakah harus beli produknya atau gak. Tapi logikanya sih mungkin posting foto tentang makanan sehari-hari.

Apa Visi Misi Berrykitchen?

Jadi peran serta Berrykitchen adalah untuk mempermudah konsumen mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya. Dan seluruh penjualannya by online. Kenapa ia memilih berjualan makanan secara online? Karena ia melihat kehidupan para netizen di kota besar seperti Jakarta sudah sangat sibuk, sudah sangat jarang yang turun ke dapur, atau ke pasar untuk berbelanja satu persatu, belum lagi belajar masaknya. Nah di Berrykitchen ini menyediakan apa yang konsumen butuhkan.

Di Berrykitchen ini mau makanan tinggal masaj juga ada, lalu Ready to Eat juga ada, makanan rekomendasi Chef juga ada. Saat ini Berrykitchen sempat bekerjasama dengan Chef Edwin Lau. Buat yang sering terima email newsletternya pasti tau nih :)) Kalau saya sih udah tau karena berlangganan newsletternya. Itu juga gak sengaja. Jadi waktu saya setelah register, langsung dikirimin newsletternya. Awalnya sih ganggu, tapi lama kelamaan saya jadi kepoin menu-menu yang dihadirkan daei Berrykitchen ini. Recomended Chef nya oke-oke lho semua! Duh saya aja pengen pesen :)

Cara Marketing Berrykitchen

Karena Berrykitchen ini penjualannya online, cara mereka menarik konsumen untuk membeli produk mereka adalah melalui packaging. Karena Berrykitchen paham bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta adalah pengguna sosial media. Disitulah gunanya mereka belajar dan survey dulu gak langsung terjun jualan selama 2 tahun itu. Jadi mereka paham beyuk kebiasaan netizen, kalau beli barang dengan packaging yang bagus, biasanya mereka tidak segan-segan untuk memposting makanannya di social media.

Nah, guna tetap mempertahankan konsumen dan di tengah dentuman makanan siap antar lainnya, Berrykitchen repackaging setiap 2-3 bulan sekali, tergantung seasonnya sedang apa. Entah sedang lebaran, Natal, Tahun Baru, dan sebagainya. Dan rata-rata konsumen sangat appriciate terhadap marketing yang mereka lakukan itu.




No comments