Coral Triangle Day : Say No To Plastic Start Now


Masih ingat gak kamu, beberapa bulan lalu pemerintah menetapkan peraturan diet kantong plastik? Hayoo siapa yang masih rela membayar untuk satu buah plastiknya? :). Tapi peraturan itu tidak bertahan lama, banyak pro dan kontra ya waktu itu, akhirnya peraturan pemerintah itu dihentikan dan kembali lagi penggunaan kantong plastik menjadi free (gratis).


Sebagai orang lulusan Biologi, saya sih paham betul bahwa kantong plastik itu butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai dan bersatu dengan tanah. Memang agak dilema juga ya, saya ibu rumah tangga yang sehari-harinya membutuhkan kantong plastik, tapi saya juga ingin menyelamatkan lingkungan.

Beruntunglah plastik yang ada sekarang sudah lebih baik, alias sudah bisa terurai tanpa butuh waktu ratusan tahun (Bio Degrade). Tapi tetap saja jika penggunaannya loose control tetap akan menjadi pencemaran lingkungan.

Saya jadi ingat waktu saya ke pantai, lihat banyak sampah di tepi-tepi pantai. Banyak banget sampah plastik seperti botol air mineral, bekas makanan sampai sampah plastik bertebaran dimana-mana. Yang paling menyedihkan sampahnya itu jadi terbawa ke laut. Akibatnya air laut jadi banyak sampah. Sampah-sampah itu kan lama kelamaan akan masuk ke dalam dasar laut dan akan mempengaruhi ekosistem laut kan? Siapa yang mau ambil sampah di dalam dasar laut coba?

Makanya saya concern banget soal sampah, karena gak banyak orang yang rela sadar diri untuk buang sampah pada tempatnya. Untuk itulah beberapa waktu lalu saya menghadiri talkshow di Departemen Kementrian Kelautan dan Perikanan di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Tema yang dihadirkan saat itu adalah  Curbing Marine Debris - Reduce Your Plastic Wastel dengan sub-tema Selamatkan Laut Kita, Stop Sampah Plastikmu! Acaranya seru, mulai dari Talkshow, Pemutaran film, Pameran Mini, Musik, Diskusi, Doorprize dan dihadiri oleh 50 orang peserta dari Kementrian dan 250 orang dari social enthusiast.

Kebetulan saat saya hadir waktu itu adalah bertepatan dengan Coral Triangle Day (Hari Karang Dunia) yang diperingati setiap tahun oleh keenam negara anggota CTI-CFF seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Salomon setiap tanggal 9 Juni.







Sebelum masuk ke acara inti (talkshow), acara dibuka dengan tarian dari beberapa aneka satwa laut disini.


Tentang Coral Triangle Day (CT-Day)

CT-Day sudah ditetapkan secara aklamasi pada CTI-CFF Ministerial Meeting ke-4 (MM 4) pada tahun 2012 di Putrajaya, Malaysia. Karena sehari sebelumnya yaitu tanggal 8 Juni sudah lebih dulu diperingati sebagai Hari Kelautan Dunia.

Nara sumber yang dihadirkan di acara talkshow ini adalah dari Direktur Jendral Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bramantya Satyamurti Poerwadi. Beliau mengajak masyarakat untuk melakukan aksi nyata dalam melestarikan ekosistem laut, karena Indonesia termasuk salah satu negara anggota CTI yang memiliki kekayaan terumbu karang yang luas. Tapi mendapat ancaman terhadap ekosistem terumbu karang, yang datang melalui destructive fishing, yaitu penangkapan ikan berlebihan, pariwisata yang tidak ramah lingkungan dan perubahan iklim.

Moderator siang it adalah Dayu Hatmanti (Miss Scuba Sumber Internasional 2011). Selain itu juga dihadiri oleh Aryo Hanggono (Staf Ahli Bidang Ekologi dan Sumberdaya laut KKP), Elvi Wijayanti (Sekretaris Deputi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim, Kemenko Maritim), Sudirman (Direktur Pengelolaan Sampah, Ditjen PSLBBB, KLHK, serta Hamesh Daud (Public Figure) dan Trinity (Traveller dan Writter)

Apa itu Coral Traingle (Segitiga Karang)?

Yaitu sebutan untuk wilayah geografis perairan lebih dari 6.500.000 km2 dengan lebih dari 600 spesies terumbu karang dan meliputi 76% semua spesies terumbu karang yang ada di dunia dan merupakan ekosistem laut yang paling subur. Wilayah di negara-negara yang tadi saya sebutkan diatas adalah terkenal dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna endemik, hutan hujan tropis, terumbu karang, hutan mangroove yang luas dan juga beberapa spesies padang lamun. Lebih dari 3000 spesies ikan termasuk ikan paus, lumba-lumba, pari, hiu, duyung dan ikan terbesar di dunia (ikan paus hiu) menjadikan wilayah segitiga karang sebagai tempat hidup. Belum lagi 6 dari 7 spesies penyu laut bertelur, mencari makan dan bermirasi di kawasan ini.

Jadi kebayang dong kalau ekosistem laut kita punah akan jadi seperti apa nantinya?

Rusaknya terumbu karang biasa disebabkan oleh pembangunan di wilayah pesisir, pembuangan limbah dari berbagai aktivitas di darat dan laut, lalu sedimentasi akibat rusaknya hulu dan aliran sungai, pertambangan, penangkapan ikan merusak sianida dan alat tangkap terlarang yang tidak ramah lingkungan, pemutihan karang akibat perubahan iklim, dan penambangan terumbu karang.


Makanya kita sering dengar untuk beberapa pabrik ada peraturan perundang-undangan mengenai pembuangan limbah. Limbah industri baik rumah tangga, atau perusahaan wajib ada regulasinya dimana tempat pembuangan limbahnya. Salah pembuangan bisa mencemari lingkungan sekitar.

Di Indonesia, KKP selaku Focal Point Sekretariat Komite Nasional (Setkonas) CTI-CFF Indonesia bekerja sama dengan GIZ Indonesia, WWF Indonesia dan RARE Indonesia, berkesempatan untuk menyelenggarakan acara Perayaan CT-Day 2017.

Hamesh dihadirkan disini bukan hanya semata-mata ia artist, tapi ternyata Hamesh adalah salah satu orang yang concern terhadap pelestarian ekosistem laut. Masa kecilnya banyak dihabiskan di laut bersama dengan ayahnya. Jadi karena itulah ia sangat setuju dengan adanya Coral Triangle Day ini.



Gak cuma Hamesh, mba Trinity juga ternyata concern banget dengan ekosistem laut. Dia bilang, dia kesal sekali saat ia travelling, banyak sekali ia menemukan perilaku orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti buang sampah di jalan sembarangan. Dia sempat ngomel-ngomel dengan pelakunya, tapi saya lupa mba Trinity cerita di negara mana. Itu membuktikan bahwa ia sangat-sangat cinta akan kebersihan dan pelestarian lingkungan. Ia juga bilang, kalau travelling, kemana-mana, ia selalu membawa shopping back dan plastik kecil untuk membuang sampah (in case jika tidak ada tempat sampah di jalan). Gak ada tempat sampah, ya bukan berarti bisa buang sampah sembarangan kan? Simpan aja dulu sampahnya, nanti kalau ketemu tong sampah, baru bisa dibuang sampahnya.

Sesimple itu sih kalau kita ingin menjaga lingkungan kita tetap bersih.


Hamesh bercerita saat ia kecil erat sekali kehidupannya dengan ekosistem laut. Itulah kenapa ia saat ini menekuni olahraga diving. Dunia di bawah laut itu indah sekali, bilangnya. Sayang sekali bila kita merusaknya hanya dengan sampah-sampah yang gak bertanggung jawab?


Ini adalah foto saat Hamesh diving dengan ikan paus terbesar di dunia (saya lupa dia sebutkan dimana). Bisa cek di instagramnya Hamesh.




Setelah acara talkshow selesai, para nara sumber berfoto bersama dan diberikan plakat tanda terima kasih.


Ohya friends, dalam waktu dekat katanya pemerintah akan mengeluarkan regulasi tentang stop penggunaan kantong plastik (yang dulu pelaksanaannya sempat terhenti karena sesuatu dan lain hal). Tujuannya adalah supaya masyarakat lebih peduli akan bahayanya penggunaan kantong plastik secara berlebihan tanpa pengawasan dan loose control.

Jika kita bisa 'wise' terhadap penggunaan kantong plastik, saya yakin bumi kita akan jauh lebih panjang umur, tetap asri dan tidak ada lagi yang namanya banjir dan permasalahan yang timbul akibat plastik.

Mulai sekarang, yuk stop penggunaan kantong plastik. Pakailah jikalau perlu saja. Jikalau urgent saja. Kita bisa mengganti kebiasaan kita menggunakan plastik dengan rajin membawa paper atau shopping bag sendiri, seperti saya ini. Gak sulit kok, dan tidak memberatkan.

Kalau bukan mulai dari diri kita, siapa yang menjaga bumi dan lingkungan kita supaya tetap asri? :)




1 comment

  1. Sekarang diet plastik udah ga digalakkan lagi ya? soalnya di supermarket atau mini market bandung plastik bertebaran kembali huhu

    ReplyDelete