Bagaimana Menjadi Ibu Rumah Tangga Yang SMART Dalam Menggunakan Produk Lokal Yang Berkualitas


Saya ingat betul pertama kali mama mengajak saya untuk belanja dipasar

Mama : Lin, pilihin tomat yang bagus dong
Lina : Ma, tomat gimana yang bagus
Mama : Yang pasti tomatnya berwarna merah, jangan yang ijo yah, dan cari yang gak busuk dan tidak bonyok
Lina : Ini ma tomatnya
Mama : Bang berapa tomatnya?
Pedagang : 200 aja bu
Mama : 150 aja ya bang
Pedagang : Untuk ibu 150 aja deh
Mama : Yuk lin, sekarang kita beli bawang bombay disebelah
Lina : Kenapa beli disebelah ma?
Mama : Soalnya disebelah untuk bawang bombay lebih murah

Apa kamu mengalami apa yang saya alami diatas? waktu saya masih kecil, saya tidak mengerti bagaimana harus memilih tomat yang benar itu seperti apa, tomat harus mencari yang berwarna merah, dan tidak bonyok, trus setelah mendapatkan tomat harganya masih bisa ditawar, tidak hanya itu ternyata untuk membeli bawang bombay tidak ditempat yang sama dengan tomat, karena di sebelah harganya lebih murah.

Belanja = Konsumtif

Jadi ibu rumah tangga yang smart, pintar dalam mengelola waktu dan keuangan keluarga, sayang keluarga, hemat, ahh pasti itu idaman setiap wanita. Di jaman serba digital sekarang dan hantaman dunia fashion dan kebiasaan orang serba konsumtif ini pastinya susah untuk diwujudkan. Apalagi kalau dengar kata belanja, pastinya negatif banget. Karena belanja itu identik sekali dengan wanita yang konsumtif. Trus, gimana caranya kita bisa menjadi ibu rumah tangga yang SMART dan gak ketinggalan jaman sih? Apa harus selalu update trend? Apa harus punya gadget yang keren supaya bisa dibilang SMART?

Apa bisa dikatakan kalau Belanja = Konsumtif? Jawabannya iya jika definisinya "Belanja adalah alat pemuas keinginan akan barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, tapi karena pengaruh trend, maka mereka merasa akan suatu keharusan untuk membeli barang-barang tersebut", tapi bisa dikatakan Belanja tidak sama dengan Konsumtif jika definisinya "Belanja adalah kata yang sering digunakan sehari-hari baik di dunia usaha maupun rumah tangga dimana orang membeli barang sesuai dengan kebutuhan , belanja itu adalah sebagai alat pemuas keinginan akan barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, tapi karena pengaruh trend, maka mereka merasa akan suatu keharusan untuk membeli barang-barang tersebut. 

Kebiasaan Belanja atau identik dengan konsumtif, yaitu suatu aktivitas yang sering dilakukan oleh seseorang secara berulang-ulang baik secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku konsumtif bisa dilihat bila seseorang berperilaku secara berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara terencana, Sebab orang bisa konsumtif itu macam-macam, membanjirnya barang produksi import, efektifnya suatu iklan seperti promosi atau diskon, gajian ataupun lifestyle. 

Sama seperti kebutuhan dan keinginan. habit masyarakat sekarang sudah susah membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Apalagi kalau sudah bahas gadget, pasti erat hubungannya dengan lifestyle. Lihat temen ganti gadget atau kamera yang high end, pasti ada sedikit terbersit di benak kita, "Duh, kapan ya saya bisa ganti and punya gadget seperti itu?" atau ,"Nanti gajian saya mau beli kamera kayak gitu ah, gapapa deh cicilan 1 setahun, yang penting bisa eksis diantara temen-temen. Malu dong saya kameranya masih DSLR. Yang lain kameranya udah slimmy semua" LOL. Oke, kamu bukan pecinta gadget atau elektronik, sebut aja sepatu atau tas, rata-rata cewek itu kalau udah denger tas bermerk original trus diskon, biasanya langsung inget, "Gue masih bisa nambah cicilan lagi gak ya bulan ini? hahaa. Dan fakta ini benar-benar terjadi, contoh terdekatnya adalah temen saya satu komunitas (gak perlu saya sebutkan namanya), sebut aja Mawar (LOL), temen saya ini gak hobby belanja sih, udah ibu-ibu punya 2 orang krucil, kerja sebagai PNS, tapi kalau denger ada diskon, langsung ijo aja matanya. Padahal cuma buat mencicil jam tangan. Jadi perilaku konsumtif gak melulu wanita yang single, yang udah jadi ibu rumah tanggapun pasti juga ada.

Permasalahan Kualitas Produk Indonesia

Saya pernah bertanya ke Mawar, temen saya itu, kenapa doyan banget belanja produk-produk import? Dia bilang, simple aja, karena kualitasnya lebih oke, lebih prestis. Dan temen-temen di kantornya banyak yang pakai merk itu. Kalau dia gak pakai merk itu, kayaknya bakalan ketinggalan jaman deh, alias kudet. 

Saya waktu bazaar dengan produksi barang saya sendiri (aurabatik) 

Trus saya tanya lagi, kenapa gak beli produk lokal aja? Banyak yang cukup oke kan? Temen saya jawab lagi, "Ah gak ah! Kualitas lokal banyak yang kurang oke, baik dari jahitannya maupun modelnya. Mending beli yang mahal sekalian, udah jelas, dan juga awet alias tahan lama."


Tuh, terbukti deh, banyak orang yang gak mau pakai produk lokal karena kualitas produk kita masih jauh sempurna yang diharapkan oleh pelanggan. Saya sih gak menyalahkan temen saya itu, terbukti saya masih menemukan produk-produk lokal yang kualitasnya masih rendah banget. Mau yang kualitasnya oke, premium dan kelas boutique, sudah jelas ada harga (lebih) yang harus dibayar. Mau murah? Yah you knowlah kualitasnya gimana kan.

Perlindungan Konsumen di Indonesia

Perlindungan konsumen masih aja jadi permasalahan yang belum dapat diselesaikan. Contoh nyata, dari banyaknya kasus tentang sengketa konsumen yang sampai sekarang belum jelas. Nah disinilah peran penting pemerintah dalam hal pemberdayaan konsumen karena pihak konsumen seringnya menjadi pihak lemah jadi tidak mampu memperjuangkan kepentingannya. Nah, dengan demikian terciptalah Hari Konsumen Nasional, atau disingkat dengan Harkonas, dengan tujuan agar semakin banyak pihak yang termotivasi membangun konsumen yang cerdas dan pelaku usaha yang semakin memiliki etika dalam usahanya.

Penyelenggaraan Harkonas 

Harkonas pertama kali ditetapkan pertama kali tanggal 20 April 2012, tapi puncak peringatan Harkonas tanggal 23 April 2013 dengan Tema “Gerakan Meningkatkan Kesadaran Hak Konsumen”. Peringatan Hari Konsumen Nasional ini menjadi momentum upaya penguatan konsumen cerdas secara berkesinambungan dan penggerakan seluruh elemen masyarakat agar dapat berperan aktif dalam gerakan konsumen cerdas di Indonesia. Dan menyusul di tahun-tahun berikutnya, sampai ke tahun sekarang yaitu 2016, temanya masih sama dengan tahun sebelumnya, yaitu “Gerakan Konsumen Cerdas, Mandiri dan Cinta Produk Dalam Negeri” dengan sub tema “Konsumen Cerdas Dengan Nasionalisme Tinggi Menggunakan Produk Dalam Negeri. Rangkaian kegiatan peringatan Harkonas 2016.

Dengan melihat peringatan Harkonas yang diselengarakan tahun ke tahun itu menandakan bahwa pemerintah atau negara concern kepada perlindungan hak dan kewajiban dari konsumen. 

Hak dan Kewajiban sebagai konsumen 

Kamu tau arti konsumen? Yaitu setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak diperdagangkan.

Menurut info yang saya ambil dari website Harkonas, beberapa hak dan kewajiban konsumen adalah

1. Hak dan Kewajiban sebagai konsumen

Hak : Mendapatkan kenyamanan, keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. Memilih informasi dengan benar, jelas dan jujur tentang kondisi dan jaminan barang atau jasa.

Kewajiban : Membaca dan mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian barang atau jasa.

2. Teliti Sebelum Membeli


3. Perhatikan Label Garansi
4. Produk sudah berlabelkan SNI
5. Perhatikan masa kadaluarsa sebuah produk
6. Beli sesuai dengan kebutuhan
7. Mencintai produk dalam negeri




Pentingnya mencintai produk dalam negeri yang berkualitas

Saat ini produk lokal menurut saya sudah hampir setara dengan produk luar negeri, buktinya produk-produk para UKM dalam negerti sudah mejeng dengan cantik di beberapa departemen store di luar negeri kok. Tapi tentunya melalui standarisasi khusus ya. Misalnya, packagingnya oke, kualitasnya juga premium, dan yang terpenting harganya bersaing. Jadi begini logikanya,karena dengan membeli produk asli Indonesia, ekonomi akan berputar di dalam negeri, jadi memantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia itu sendiri. That's why saya tekankan bahwa pentingnya kita mencintai produk dalam negeri (yang berkualitas).

Jadilah Konsumen Yang Cerdas

Salah satu kewajiban menjadi konsumen adalah menjadi pribadi yang cerdas. Caranya gimana? Gampang kok! Selalu teliti sebelum membeli produk. Teliti tangal kadaluarsanya, teliti kembali apakah barang yang kita beli merupakan suatu kebutuhan bukan keinginan.

Pengaduan Konsumen

Katanya, harus jadi konsumen cerdas? Tapi kalau kita mendapati produk atau layanan yang gak oke? Syaa harus lapor kemana? Kesini :

1. Langsung pada pelaku usaha
2. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) setempat
3. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat
4. Dinas yang menangani perlindungan konsumen di Kabupaten/Kota
5. Pos layanan informasi dan pengaduan konsumen
Hotline : (021)3441839
E-mail : pengaduan.konsumen@kemendag.go.id
Whatsapp : 0853 1111 1010
Google Play Store : Pengaduan Konsumen

Nah, salah satu konsumen yang produktif dan konsumtif adalah ibu rumah tangga, ia dengan mampu mengatur segalanya sehingga hampir di semua kepala keluarga istri dijuluki Menteri Perekonomian Keluarga. Karena memang istrilah yang umumnya mengatur keuangan dalam keluarga. Itulah mengapa pentingnya kita menjadi konsumen yang cerdas, khususnya Ibu Rumah Tangga karena kemajuan ekonomi negara juga ditentukan dari kepiawaian ibu rumah tangga berbelanja, salah satunya dalam selalu menggunakan produk-produk dalam negeri yang berkualitas.

Sudah tau kan caranya jadi konsumen yang cerdas? Yuk, mulai dari sekarang, kita cerdas dalam memilih, berbelanja, khususnya untuk urusan sandang dan pangan. Dengan memilih produk lokal, mencintai produk dalam negeri, secara tidak langsung kita juga ikut meningkatkan perekonomian bangsa.






























3 comments

  1. Ajakan yang menarik. Yuk jadi konsumen cerdas yang selalu mencintai produk dalam negeri yang berkualitas :)

    ReplyDelete
  2. thanks untuk informasi pengaduan konsumen ya :) Selama ini kan rada2 blebeb sebenarnya, harus ke siapa dan ke lembaga mana utk pengaduan konsumen.

    ReplyDelete
  3. Oh ternyata ada pengaduan konsumen, baru tahu :)

    ReplyDelete